Pengarang: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 331
Harga: Rp. 75.000
Cerita bersetting abad 17, tepatnya 1667 setelah VOC di bawah Cornelis Speelman mengalahkan Sultan Hasanuddin di Gowa, Makassar. Pada waktu itu, terdapat satu kelompok bajak laut gagal bernama Kerapu Merah dengan kapten yang paling bodoh dan sok tahu bernama Jaka Kelana, yang setiap keputusannya didasarkan pada suara Dewa Ganteng. Kerapu Merah tidak pernah berhasil membajak satu kapal pun. Tentu sudah diduga sebabnya: kebodohan awak-awaknya. Kerapu Merah pun menjadi bahan ejekan di antara para bajak laut.
Berdasarkan nasehat dari bajak laut kawakan yang menjadi idola di seantero Sinciapo (maksudnya Singapura, merupakan daerah bebas hukum dan menjadi markas para bajak laut), Han Seng, Jaka akan mendapatkan ketenaran apabila ia berhasil merampok dan namanya tertera dalam poster buronan. Maka, Jaka pun menyusun rencana untuk merampok sebuah rumah Belanda yang mewah di Batavia. Siapa sangka, hasil rampokan Jaka ternyata merupakan catatan jurnal yang sangat berharga, yang berisi rahasia sejarah nusantara sejak zaman Majapahit berdiri! Catatan itu, bersama dengan sebilah keris, ternyata merupakan milik Cornelis Speelman, yang bermaksud mencari harta karun.
Jaka, yang tidak mengetahui isi barang rampasannya, panik dikejar-kejar pasukan VOC. Selain itu, seluruh warga Sinciapo pun ternyata mengincar nyawanya karena VOC telah mengeluarkan poster buronan atas Jaka dengan jumlah uang yang sangat besar. Di saat situasi kritis, muncul tiga orang pendekar menolong Jaka dan kelompok Kerapu Merahnya.
Ketiga pendekar adalah keturunan para arya sejak zaman pendirian kerajaan Majapahit. Mereka mengemban misi penting berkaitan dengan barang rampasan Kerapu Merah. Namun, mereka hampir tidak memiliki kekuatan untuk menyelesaikan misi tersebut. Alhasil, Jaka dan teman-temannya di Kerapu Merah pun membantu. Siapa sangka, petualangan membahayakan menanti mereka.
Bagaimana nasib Kerapu Merah selanjutnya?

















