Tampilkan postingan dengan label worklit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label worklit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Maret 2013

Bunheads

Title: Bunheads
Author: Sophie Flack
Year Published: 2011
Publisher: Atom
Pages: 294
Price: USD 4.34 Book Depository


Buy This Book from Book Depository, Free Delivery World Wide


"My name is Hannah Ward. Don't call me a ballerina.
Ballerinas are the stars of the company. They dance center stage under the spotlight, and they get their own curtain calls. Their head shots are printed in the program, with their names in large print. Me, I'm a dancer in the corps de ballet, just one of the dozens of girls who dance in graceful unison each night. My mother think I'm a star, but she's biased."

Meet Hannah. She had spent her teenage years doing ballet. She joined Manhattan Ballet Academy when she was 14 and now she was 19. Hannah loved ballet from her heart, but life as a ballet dancer was not easy. Dancers had to maintain their body to be slim and stick to certain weight. They had to train all day. Their body were sore but they couldn't complain because those were all they had to do to be able to perform their dances effortlessly and gorgeously on the stage. And that's what Hannah exactly did. But when Hannah met Jacob, an NYU student and also a part time guitarist, at her cousin's restaurant, Hannah quickly fell in love with him, a pedestrian (what the dancers called the non-dancer).

Hannah loved spending time with Jacob but as she spent more time with him, the less time she cared about ballet and gradually she lost her focus on ballet. But Hannah still want to compete with other dancers to get the solo part, and she couldn't do it if she still had Jacob in her head.

Would Hannah choose ballet over Jacob? Would Hannah succeed to reach her dream as a ballerina?

Sabtu, 09 Februari 2013

Hitam Putih + Giveaway

Judul: Hitam Putih
Pengarang: Budi Satrio
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 234
Penerbit: Literati
Harga: Rp. 39.000


Dewa adalah seorang pengacara sukses. Dulunya ia seorang pengamen dan sangat miskin, namun berkat kegigihannya, ia dapat kuliah hukum dan perlahan-lahan menjadi partner di sebuah lawfirm ternama. Sayang, setelah hidupnya kini serba berkecukupan, ia malah merasa hidupnya hampa. Load pekerjaan yang sangat tinggi dan penuh tekanan, kecurangan-kecurangan yang kerap ia lakukan untuk memenangkan kasus, lalu persaingan dirinya dengan rekan sesama partner, Stela, membuat hidup Dewa hambar. Bahkan kekasihnya yang sempurna, Raras, sepertinya tidak bisa membuatnya merasa "penuh".

Suatu hari, Dewa dipercaya memegang kasus pemogokan buruh di daerah Cicalengka. Di sana, ia bertemu Prameswari, seorang wanita yang cerdas dan sopan santun, namun diduga oleh klien Dewa sebagai otak dari mogok buruh tersebut. Dewa diminta untuk segera membereskan Prameswari, padahal Dewa merasa kalau Prameswari bukanlah otak dari pemogokan tersebut. Di lain pihak, Dewa juga sedang memegang kasus gugatan class action terhadap Gubernur Provinsi Baru dan untuk menyelesaikannya, Dewa diharuskan memberikan "upeti" sebesar Rp. 50 milyar kepada Majelis Hakim yang menyidangkan kasus tersebut.

Berhasilkah Dewa mengisi kembali kehampaan jiwanya? Cara penyelesaian apa yang akan dipilih Dewa untuk kasus-kasus yang dipegangnya, cara penyelesaian dengan akal atau dengan hati?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...