Senin, 07 Maret 2016

Maybe Someday

Judul: Maybe Someday (Mungkin Suatu Hari)
Pengarang: Colleen Hoover
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Halaman: 438


Sydney pertama kali mengenal Ridge ketika ia mendengar petikan gitar Ridge dari balkon apartemennya. Ridge, yang tinggal di apartemen di seberang apartemen Sydney, sering keluar ke balkon untuk memetik gitar. Tanpa terasa, Sydney ketagihan dengan alunan gitar Ridge, bahkan menciptakan lirik untuk lagu-lagu Ridge.

Ridge, yang diam-diam memperhatikan Sydney menyenandungkan lagu-lagunya, penasaran dan meminta lirik lagu dari Sydney. Ridge menyukai lirik Sydney. Komunikasi antara keduanya pun terjalin melalui SMS.

Ketika suatu hari Sydney mengetahui kalau pacarnya, Hunter, berselingkuh dengan teman seapartemen sekaligus sahabat Sydney, Tori, Sydney marah dan meninju keduanya. Setelah itu, Sydney kebingungan karena tidak memiliki tempat tinggal lagi. Beruntung Ridge, dibantu teman seapartemennya, Bridgette, mau menampung Sydney untuk sementara. Setelah seapartemen dengan Ridge, barulah Sydney mengetahui kalau Ridge sebenarnya tunarungu dan menggunakan perasaan dan getaran untuk menciptakan nada-nada indah. Sungguh seorang seniman genius! Ridge bahkan berperan besar dalam band adiknya, yang juga merupakan band favorit Sydney, Sounds of Cedar. Ridge menulis lagu untuk band itu, dan kini sedang buntu ide. Sydney adalah penyelamatnya. Ridge kemudian menawarkan barter: Sydney dapat tinggal gratis di apartemen Ridge asalkan Sydney membantunya menulis lagu. Karena terdesak kebutuhan finansial, Sydney pun menyetujuinya.

Bertemu dengan Ridge bagaikan bertemu belahan jiwa. Sydney dan Ridge begitu kompak satu sama lain; saling melengkapi dalam menulis lagu. Tanpa sadar, keduanya jatuh cinta. Masalahnya, Ridge ternyata sudah punya kekasih: Maggie. Sydney tidak mau berada di posisi yang sama dengan Tori; ia tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan yang sudah terbangun begitu lama dan kokoh. Warren, teman seapartemen sekaligus sahabat Ridge pun sudah memperingatkannya. Namun bagaimana Sydney bisa menjauhi Ridge kalau segenap tubuhnya seperti tak bisa terpisahkan dari lelaki itu?

Mungkinkah suatu hari Sydney bisa bersama-sama dengan Ridge? Atau sebaliknya ia harus meninggalkan Ridge?

Oke, sebelumnya, saya harus jelaskan dulu kalau buku ini membahas cerita mengenai "orang ketiga" yang sering kali menjadi topik yang sangat sensitif untuk pembaca. Saya pribadi sih tidak punya masalah dengan topik ini walau kalau membayangkan saya berada di posisi orang yang dikhianati pasti rasanya menyakitkan sekali. Namun, jika teman-teman merasa tidak nyaman dengan topik ini, sebaiknya jangan membaca buku ini, karena saya takut teman-teman akan berakhir menilai buku ini sebagai suatu pembenaran bagi perselingkuhan dan malah memaki-maki buku ini.


Soulmate atau belahan jiwa (atau imprint kalau pakai bahasa Twilight :)) mungkin memang sesuatu yang tidak bisa disangka dan tidak bisa dilawan ketika datang. Kalau kita mengambil contoh kasus selebriti di Indonesia, ada beberapa yang sepertinya baru bertemu soulmate-nya setelah berpacaran atau menikah kesekian kalinya. Sebut nama aja ya--ini salah satu pasangan selebritis yang saya kagumi, Andhika Pratama dan Ussy Sulistiawaty. Saya merasa mereka ini memang made for each other terlepas dari kenyataan bahwa Andhika adalah suami kedua Ussy dan perbedaan umur mereka. Atau, kalau mau ambil contoh kasus di sekitar saya, ada teman saya yang dulu datang ke Jakarta untuk kerja praktek beberapa bulan. Dia sudah punya pacar yang serius di kota asalnya, tapi ketika di Jakarta dia malah jatuh cinta dengan teman saya yang lain, putus dari pacarnya, dan menikah dengan teman saya itu. Sampai sekarang, pernikahan mereka harmonis dan mereka terlihat saling memahami satu sama lain--salah satu pasangan favorit saya.

Apa yang terjadi pada Sydney dan Ridge dalam buku ini merupakan hal yang tidak dapat ditolak. Walau Ridge sudah memiliki Maggie selama lima tahun, baru Sydney yang dapat menggugah hatinya; Sydney mengerti suara hati Ridge yang dituangkan melalui petikan gitar dan Ridge benar-benar memahami Sydney. Perpaduan keduanya bukan saja melengkapi satu sama lain namun juga meningkatkan produktivitas mereka dalam bekerja. Namun tentu, karena status Sydney yang sebagai orang ketiga, hubungan mereka tidak bisa berjalan mulus. Ridge merasa berdosa pada Maggie yang tidak berbuat salah sama sekali namun juga merasa sakit ketika terpaksa menyakiti Sydney. Pertentangan batin Sydney dan Ridge dituliskan dengan sangat baik oleh Colleen Hoover, begitu juga perkembangan emosi keduanya yang semakin mengikat. Belum lagi ditambah lirik-lirik lagu yang meneriakkan isi hati keduanya. Untuk mengaduk-aduk emosi pembaca, novel ini juara.

Namun demikian, menurut selera pribadi saya, alurnya terlalu lambat dan terlalu menghabiskan banyak halaman untuk hal yang tidak maju-maju. Seandainya cerita berkembang lebih cepat, akan lebih baik. Di tengah cerita, saya sejujurnya mulai lelah. Untung kehadiran Warren dan Bridgette sedikit membuat cerah suasana. Warren lucu banget dan dia bersama Bridgette sungguh menggemaskan!

Untuk edisi terjemahannya, saya bingung dengan cover-nya yang menurut saya terlalu "panas" dan tidak menggambarkan tokoh Sydney dan Ridge--yang keduanya berambut pirang. Saya masih suka cover aslinya. Namun demikian, terjemahan bahasa Indonesianya bagus dan saya menyukai keputusan penerjemah dan penerbit untuk membuat lirik-lirik lagu di buku ini bilingual, sehingga pembaca tetap dapat merasakan keindahan lirik-liriknya tanpa kebingungan mengartikannya.

Sebuah buku New Adult yang menarik.


2 komentar:

  1. Kak Nana, Sidney ini cewek kan??? Soalnya pertama kali baca reviewnya aku mikir yang mana cewek yang mana cowok nie... hehe *gagal fokus*

    BalasHapus
  2. Iya Sydney cewek. Hehe. Bukan novel LGBT kok

    BalasHapus

Berikan pendapatmu mengenai post yang kamu baca di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...