Selasa, 31 Januari 2017

Bajak Laut & Purnama Terakhir

Judul: Bajak Laut & Purnama Terakhir
Pengarang: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 331
Harga: Rp. 75.000


Cerita bersetting abad 17, tepatnya 1667 setelah VOC di bawah Cornelis Speelman mengalahkan Sultan Hasanuddin di Gowa, Makassar. Pada waktu itu, terdapat satu kelompok bajak laut gagal bernama Kerapu Merah dengan kapten yang paling bodoh dan sok tahu bernama Jaka Kelana, yang setiap keputusannya didasarkan pada suara Dewa Ganteng. Kerapu Merah tidak pernah berhasil membajak satu kapal pun. Tentu sudah diduga sebabnya: kebodohan awak-awaknya. Kerapu Merah pun menjadi bahan ejekan di antara para bajak laut.

Berdasarkan nasehat dari bajak laut kawakan yang menjadi idola di seantero Sinciapo (maksudnya Singapura, merupakan daerah bebas hukum dan menjadi markas para bajak laut), Han Seng, Jaka akan mendapatkan ketenaran apabila ia berhasil merampok dan namanya tertera dalam poster buronan. Maka, Jaka pun menyusun rencana untuk merampok sebuah rumah Belanda yang mewah di Batavia. Siapa sangka, hasil rampokan Jaka ternyata merupakan catatan jurnal yang sangat berharga, yang berisi rahasia sejarah nusantara sejak zaman Majapahit berdiri! Catatan itu, bersama dengan sebilah keris, ternyata merupakan milik Cornelis Speelman, yang bermaksud mencari harta karun.

Jaka, yang tidak mengetahui isi barang rampasannya, panik dikejar-kejar pasukan VOC. Selain itu, seluruh warga Sinciapo pun ternyata mengincar nyawanya karena VOC telah mengeluarkan poster buronan atas Jaka dengan jumlah uang yang sangat besar. Di saat situasi kritis, muncul tiga orang pendekar menolong Jaka dan kelompok Kerapu Merahnya.

Ketiga pendekar adalah keturunan para arya sejak zaman pendirian kerajaan Majapahit. Mereka mengemban misi penting berkaitan dengan barang rampasan Kerapu Merah. Namun, mereka hampir tidak memiliki kekuatan untuk menyelesaikan misi tersebut. Alhasil, Jaka dan teman-temannya di Kerapu Merah pun membantu. Siapa sangka, petualangan membahayakan menanti mereka.

Bagaimana nasib Kerapu Merah selanjutnya?

Jarang sekali saya menemukan buku komedi berbalut sejarah Indonesia. Terakhir mungkin hanya komik Sawung Kampret karya Dwi Koen, yang mengambil setting masa pemerintahan Gubernur Jenderal JP Coen, namun itu pun saya tidak membacanya secara lengkap karena bukunya sulit dicari. Jadi, ketika Adhitya Mulya mengeluarkan buku ini, tentu saya respek banget dan buru-buru membacanya.

Karena sifat komedinya, maka tidak semua detail sejarah yang ada di buku ini dapat dipercaya. Rata-rata direka oleh pengarang untuk memuluskan jalan cerita. Namun demikian, terdapat juga sejarah yang benar-benar terjadi, misalnya mengenai kekalahan Sultan Hasanuddin dan berdirinya Majapahit. Untuk membedakan mana yang benar mana yang karangan, tenang saja, pengarang sudah memberikan catatan di belakang. Tapi kalau kamu sambil buka google dan searching, saya rasa lebih oke, karena bakal nambah pengetahuan kamu juga. 

Jalan ceritanya membuat penasaran dan membuat buku menjadi page-turning, apalagi dibumbui candaan Adhitya Mulya tidak berubah dari dulu sampai sekarang alias tetap garing (haha!). Wajib baca, apalagi buat kamu yang menggemari serial Pirates of the Carribean (karena konyolnya bisa dibilang mirip) dan serial kolosal macam Mahkota Mayangkara, Saur Sepuh, Tutur Tinular dan sejenisnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berikan pendapatmu mengenai post yang kamu baca di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...