Selasa, 11 Desember 2012

Persuasion

Judul : Persuasion
Tahun : 2007
Pengarang : Jane Austen
Sutradara : Adrian Shergold
Skenario : Simon Burke
Pemain : Sally Hawkins, Rupert Penry-Jones, Alice Krige
(Data dari www.imdb.com)


Sementara orang-orang biasanya pertama kali mengenal Jane Austen lewat film Pride and Prejudice-nya Keira Knightley, buat saya, Persuasion inilah yang memperkenalkan saya pada seorang pengarang bernama Jane Austen. Pertama kali menonton film ini sekitar setahun-dua tahun yang lalu, gara-gara seorang teman yang hobi nonton period drama merekomendasikan film ini. Udah deh nonton. Dalam rangka posting spesial Jane Austen di bulan Desember ini, saya mau cerita sedikit tentang film ini. Saya terus terang belum baca novelnya (dan pengen banget baca novelnya buat membandingkan dengan filmnya. Semoga secepatnya ya!) jadi saya cerita berdasarkan yang saya tonton saja ya.

Kisah dibuka dengan Anne Elliot, si tokoh utama, yang sedang mendata barang-barang di rumahnya. Kellynch, nama sang rumah (yep, Orang Inggris memang suka memberi nama rumah mereka), akan disewakan kepada orang lain karena keluarga Anne terjerat hutang dan jatuh miskin. Ketimbang menjual rumah warisan turun temurun, mereka memutuskan untuk menyewakannya saja kepada bangsawan lain sementara ayah Anne akan tinggal bersama kakak Anne di Bath, Elizabeth. Sementara itu, Anne tinggal bersama adiknya, Mary Musgrove, tak jauh dari Kellynch. Ternyata, orang yang akan menyewa Kellynch adalah suami-istri Croft, dimana si istri ternyata adalah kakak perempuan Frederick Wentworth, orang yang 8 tahun sebelumnya pernah memiliki hubungan asmara dengan Anne namun diputuskan sepihak oleh Anne karena dinilai tidak sederajat dan kurang kaya dengan keluarga Elliot.

surat-surat Captain Wentworth masih disimpan Anne

Anne sebenarnya mencintai Frederick Wentworth dan tidak bisa melupakan pria itu sampai saat ini. Ia bahkan menolak pinangan Charles Musgrove, yang kemudian menikahi adik Anne, Mary. Anne kini
dianggap perawan tua, namun ia menyimpan perasaannya sendiri dengan menulis buku harian.

Dear Diary...
 Frederick Wentworth atau Captain Wentworth kini kaya raya. Ia sendiri sebenarnya masih memendam perasaan cinta pada Anne, namun ia sudah terlanjur sakit hati. Dan bertemu dengan Anne kembali di Kellynch membuat sakit hatinya kembali muncul. Pertemuan Anne dengan Captain Wentworth selalu canggung dan kaku. Di lain pihak, ipar-ipar Anne malah sangat antusias menyambut Captain Wentworth yang tampan. Louisa Musgrove malah terang-terangan melakukan pendekatan dengan sang kapten, membuat Anne yang melihatnya jadi makin nestapa (haduh!).

Captain Wentworth dan Louisa
Anne lalu memutuskan bergabung dengan ayah dan kakaknya di Bath. Disana, ia bertemu dengan Mr. Elliot, sepupunya, yang juga ahli waris gelar baronet dari ayah Anne, karena sang ayah tidak punya anak laki-laki untuk menjadi ahli waris gelar. Siapa sangka, Mr. Elliot yang duda ini malah tertarik pada Anne dan ingin menikahinya. Tepat ketika itu juga, Captain Wentworth yang setelah bertemu dan ditinggal lagi oleh Anne, menyadari kalau sebenarnya ia masih mencintai Anne dan ingin melamar Anne sekali lagi. Nah lho!

Anne dengan Mr. Elliot

Pendapat saya tentang film ini:

Garing. Ahahahaha... Mungkin karena novel Persuasion ditulis di awal abad-19 kali ya? Jadi, ketika menurut saya kisah cinta antara Anne dengan Captain Wentworth terasa pasaran banget dan kurang greget, mungkin di masa lalu itu adalah sesuatu yang baru dan bisa membuat pembacanya deg-degan hebat ketika membacanya. Entahlah.

Karakter Anne menurut saya bukanlah favorit saya. Ia begitu pasif dan menyimpan perasaannya sendiri. Di sebagian besar film, kita hanya disuguhkan close up wajah sendu Anne yang seakan-akan menahan tangis. Bikin gregetan deh. Untungnya, karakter Captain Wentworth cukup seru. Kita bisa membaca kestressan si Kapten menghadapi Anne. Di satu sisi, ia marah dan ingin membalas dendam atas perlakuan Anne dulu terhadapnya. Namun di sisi lain ia masih mencintai Anne. Sayangnya, Anne ini tidak bisa terbaca apa maunya. Untung aja di akhir cerita Anne seperti dapat pencerahan sehingga akhirnya berani juga bertindak.

Yang cukup disayangkan juga dari film ini adalah, kenapa masa lalu Anne dan Wentworth tidak diceritakan? Lewat flashback misalnya. Biar ketahuan seromantis apa mereka dulu, lalu bagaimana ketika mereka dipaksa berpisah. Seandainya bagian ini juga difilmkan, mungkin filmnya bisa lebih menyentuh emosi penonton.

Cukup membicarakan soal romance kedua tokoh utamanya. Di luar itu, menurut saya film ini berhasil memotret kehidupan bangsawan jaman dulu. Betapa banyak bangsawan lebih mengutamakan status dan kekayaan ketimbang cinta. Betapa, seperti ayah Anne, terlihat hidup makmur lebih penting ketimbang kenyataan bahwa tempat tinggal pun mereka tidak punya. Mungkin kritik inilah yang ingin disampaikan Jane Austen lewat novel Persuasionnya.

Secara keseluruhan, saya merasa tidak semua orang bisa menikmati film ini. Namun, untuk pecinta Jane Austen, mungkin akan merasa film ini asyik untuk ditonton. Soalnya, teman saya yang suka period drama itu suka banget sama film ini. Beda dengan saya yang lebih banyak pengen nyakar-nyakar si Anne ketika nonton. Hehe.

2 komentar:

  1. Ini kisah adaptasi Jane Austen yang paling tidak kusukai (>,<)
    Sudah cowoknya telmi, ceweknya pasrahhh banget, lha kapan bisa jadian sama2 nunggu langit jatuh kali ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sih kayaknya kurang cocok sama Jane Austen. Udha nonton Pride and Prejudice sama Emma juga kurang suka. Baca Emma juga kurang kena emosinya. Hehe. Yaaa orang Inggris sih ya, kurang ekspresif

      Hapus

Berikan pendapatmu mengenai post yang kamu baca di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...