Sabtu, 01 September 2012

Menaklukkan Maut (Beat The Reaper)

Judul: Menaklukkan Maut (Beat The Reaper)
Pengarang: Josh Bazell
Penerjemah: Putri Dewi MR
Jumlah Halaman: 341
Penerbit: Esensi
Harga: Rp. 87.000



Tidak ada yang menyangka bahwa dr. Peter Brown, seorang dokter intern di rumah sakit Manhattan, sebenarnya adalah seorang ex-anggota mafia. Dulu, ia dikenal dengan julukan Bearclaw. Nama aslinya Pietro Brnwa. Ia jago berkelahi sekaligus pintar berstrategi.  Ia adalah pembunuh bayaran mafia. Ditengah hiruk pikuk kesibukan rumah sakit, suatu hari ia bertemu dengan Squillante, kenalannya di mafia dulu, yang langsung mengenalinya dan menginformasikan keberadaan Peter kepada Skingraft. Skingraft, dulu dipanggil Skinflick namun berubah karena alasan tertentu, adalah teman dekat Peter di masa lalu. Malah keluarga Skinflick, yang juga mafia, telah menganggap Peter sebagai anggota keluarga sendiri. Masalahnya, kemudian terjadi suatu insiden yang justru mengubah Skinflick dari sahabat menjadi musuh bebuyutan Peter. Dan bertemu kembali dengan Skinflick adalah hal yang paling dihindari Peter saat ini.

Apakah Peter akhirnya akan berhadapan lagi dengan Skinflick? Masalah apa sebenarnya yang terjadi antara Peter dan Skinflick di masa lalu?

SINTING!!
Ini adalah kata pertama yang muncul di otak saya ketika akhirnya menamatkan buku ini.
Membaca buku ini benar-benar membuat saya merasa sedang menonton film action yang berdarah-darah. Seru, sadis, dan mencengangkan.Terutama ending-nya.

Awal-awal membaca novel ini, saya sejujurnya merasa bosan karena terlalu banyak istilah medis dan istilah-istilah lainnya yang ditulis. Memang ada footnote dan glosariumnya, namun karena terlalu banyak lama-lama agak mengganggu juga kalau ditengah membaca harus selalu melihat ke bagian bawah buku (baca footnote) dan bagian belakang buku (baca glosarium). Apalagi, di bagian-bagian awal, Peter kerap mengoceh ngalor-ngidul tentang topik apapun yang ada di pikirannya saat itu. Oh ya! Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Jadi semua diceritakan dari sudut pandang Peter dan dari pikiran Peter. Di bagian awal, saya sempat berpikir: "duh ini cerita sebenernya mau dibawa kemana sih?". Namun, semakin membaca ke belakang, semakin jelas arah yang dituju karena antara kisah masa lalu dengan masa kini semakin terlihat kaitannya. Dan setelah setengah buku ke belakang, saya mulai menikmati ceritanya. Selain itu, porsi action-nya juga semakin bertambah.

Josh Bazell menurut saya cukup baik menggambarkan dua dunia Peter Brown, yaitu dunia kedokteran dan dunia mafia. Namun perlu diingat, pengetahuan saya sangat minim tentang kedua dunia itu. Jadi saya sih terima saja dengan penjelasan yang saya dapat di cerita. Mungkin kalau yang membaca buku ini seorang dokter atau seorang mafia sungguhan, bisa saja ia berpendapat lain. Saya merasa dunia yang ditulis Bazell sangat real karena ketidaksempurnaan yang terdapat di dalamnya. Kehidupan Peter sebagai dokter digambarkan super sibuk dan tidak luput dari kesalahan dan kelalaian. Dokter bukanlah Tuhan dan kesalahan bisa terjadi kapan saja, apalagi di tengah tekanan yang tinggi dan kurangnya waktu untuk istirahat. Berbeda dengan yang sering kita temui dalam serial-serial kedokteran di TV yang sepertinya tokoh-tokohnya punya stamina yang tidak pernah habis menghadapi begitu banyaknya pasien gawat darurat setiap harinya. Dunia mafia yang memang brutal digambarkan dengan segala kebrutalannya dan kemunafikannya. Saling menghabisi, saling mengkhianati, semua ada di buku ini. Membuat saya merinding tentu, dan berdoa kencang-kencang supaya saya tidak perlu berurusan dengan dunia seperti itu.

Konflik utamanya sebenarnya khas film-film action, dimana si tokoh utama yang tadinya penjahat tiba-tiba mendapatkan hati nurani entah dari mana, lalu ingin bertobat namun dilarang oleh komunitas lamanya, lalu ia terpaksa berhadapan dengan komunitas lamanya itu. Karakteristik tokoh utamanya, Peter Brown, juga khas film-film action. Sebenarnya bukan orang jahat, hanya keadaan saja yang membuatnya begitu. Ditambah lagi, buku ini bercerita dari sudut pandangnya, jelas saja semua tentangnya terlihat benar. Namun, bumbu-bumbu yang dimasukkan ke dalam cerita ini yang membuat cerita yang sebenarnya tergolong "basi" ini masih dapat dinikmati. Dan ending-nya.. Wohooo... cukup tidak biasa lah.

Satu yang saya anggap kurang mendapat porsi di cerita ini adalah proses peralihan Peter dari mafia ke dokter. Menjadi dokter tidak mudah. Contohnya di Indonesia, semua juga tahu kalau fakultas kedokteran memiliki passing grade SPMB paling besar. Lalu kuliahnya mahal dan makan banyak waktu. Istilahnya, kalau mau anaknya masuk fakultas kedokteran, orang tua harus sudah investasi ke anak sejak anak itu belum lahir. Dikasih vitamin yang banyak biar otaknya encer, rajin menabung biar bisa bayar kuliah, kalau perlu dari kecil dininabobokan pakai buku-buku biologi, anatomi, dan sebagainya (lebay!). Yah, pokoknya, untuk jadi dokter itu susah lah! Nah, bagaimana Peter yang sejak semula tidak mendapat pendidikan yang layak, kerja hanya sebagai pegawai perusahaan sampah, lalu menembaki orang dan berkelahi tiba-tiba bisa menjadi dokter? Yang pintar pula? Apakah keikutsertaannya di program perlindungan saksi juga mencakup fasilitas untuk pendidikan menjadi dokter? Hal ini kurang mendapat porsi di buku ini karena yang ditekankan di buku ini hanyalah bagaimana Peter yang sekarang sudah menjadi dokter harus berhadapan dengan dunia lamanya lagi, yaitu dunia mafia. Untungnya, ternyata buku ini hanyalah buku pertama dari serial Peter Brown (bisa dilihat disini ya, ada tulisan Peter Brown #1 di sebelah judul buku). Jadi mungkin saja di buku selanjutnya, akan dikisahkan mengenai hal ini. Diterjemahkan juga ya, Esensi!! Hehe.

Mengenai buku terjemahan Indonesianya, terus terang saya menganggap cover Indonesia ini lebih menarik dari cover aslinya. Kualitas kertas, tulisan dan terjemahannya pun baik. Hanya sedikit kesalahan di Glossarium untuk Bab 17 dan Bab 18. Ada beberapa istilah yang terdapat di Bab 17 tertulis di Bab 18. Ada satu hal yang membuat penasaran terkait perubahan icon "setan pencabut nyawa" dari yang tadinya membawa sabit menjadi mengendarai traktor di Bab 12. Sebenarnya itu memang dari versi aslinya atau kreativitas penerbit Indonesia? Menurut saya itu jenius dan membuat saya ngakak ketika menyadarinya.

Recommended untuk pecinta bacaan action dan film action. Seru dan sadis. Buat yang tidak kuat darah dan tidak tegaan, hmm.. Pikir-pikir dulu kali ya.

Buku ini saya dapatkan secara gratis dari Penerbit Esensi untuk saya review. Terima kasih atas bacaannya yang benar-benar membuat saya seperti naik roller coaster ini!!

7 komentar:

  1. Balasan
    1. Nambah banyak deh wishlistnya. ehehehehe

      Hapus
  2. Ide cerita ini unik, memadukan medis dengan detektif-thriller dan sudah lama ingin baca buku ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya emang seru jadinya. Tapi buku ini belum keliatan di pasaran ya kayaknya. Entah kapan Esensi mau mulai pasarin buku ini

      Hapus
  3. jadi tertarik nih. kyak Godfather gitu ya?

    BalasHapus
  4. nunggu difilmin aah~
    belum pernah baca bacaan action sih, tapi suka nonton filnya.. XD

    BalasHapus
  5. wah, aku baru tahu buku ini berseri :S

    BalasHapus

Berikan pendapatmu mengenai post yang kamu baca di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...