Minggu, 12 April 2015

Across the Universe - Melintasi Semesta

Judul: Across the Universe (Melintasi Semesta)
Pengarang: Beth Revis
Penerjemah: Barokah Ruziati
Editor: Ariyantri E. Tarman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2011 / 2014 (terjemahan)
Halaman: 485
Harga: Rp. 83.000 (diskon jadi Rp. 66.400 di Bukabuku)


Amy adalah seorang remaja anak dari seorang tentara dan ahli genetika yang termasuk ke dalam proyek Godspeed. Proyek Godspeed adalah proyek di mana beberapa orang akan dibekukan secara kriogenik dan dikirimkan ke "calon" bumi baru, Bumi-Centauri, yang berwaktu tempuh 300 tahun dari Bumi-Matahari dengan pesawat luar angkasa Godspeed. Hanya ada 100 orang yang dibekukan, termasuk Amy yang berstatus Non-esensial--karena ia bisa ikut hanya karena kedua orangtuanya, sementara awak-awak kapal diprogram untuk berkembang biak di dalam kapal beberapa generasi sampai 300 tahun tercapai.

Betapa kagetnya Amy ketika tiba-tiba ia terbangun dengan cara yang menyakitkan 50 tahun sebelum jadwal bangunnya yang sebenarnya. Dan betapa kaget pula ia mendapati kalau Godspeed kini dihuni oleh masyarakat satu ras di bawah pimpinan Eldest. Sistem hidup Godspeed begitu teratur dan seragam karena ternyata, beberapa generasi sebelumnya, telah terjadi Wabah yang mengakibatkan populasi Godspeed hampir habis dan Eldest Masa Wabah menciptakan sistem Eldest di mana kelahiran diatur terjadwal dengan satu orang lahir beberapa tahun lebih dulu dari generasi selanjutnya untuk mengambil peran sebagai Eldest--pemimpin yang tertua di generasinya.

Elder merupakan calon pengganti Eldest yang berusia 2 generasi di bawah Eldest dan satu-satunya manusia di Godspeed yang seusia dengan Amy. Dengan cepat, Elder menjadi akrab dengan Amy dan Elder sangat mengagumi Amy yang "berbeda". Elder 1 generasi di bawah Eldest meninggal dunia. Dengan bantuan Elder dan juga teman seniman Elder, Harley, Amy menyelidiki alasan ia terbangun lebih cepat dan juga kematian misterius orang-orang krio selain dia yang kotaknya dirusak seseorang di Godspeed. Namun, apa yang ia temukan berikutnya sungguh mengejutkan.

Apa yang terjadi di Godspeed? Berhasilkah Amy menemukan perusak kotak-kotak krio?

Sejak lama, serial Across the Universe telah membuat saya penasaran dan ingin baca, tapi kok ya beli buku import mahal betul dan saya kurang percaya diri baca buku bergenre sci-fi/dystopia dengan bahasa Inggris karena takut nggak nyambung dengan istilah-istilah yang ada. Ketika saya menemukan buku Across the Universe di toko buku Gramedia, betapa girangnya saya karena akhirnya saya bisa baca versi bahasa Indonesianya, dan saya langsung membelinya--bacanya sempat tertunda sampai saya membeli buku keduanya, A Million Suns lalu membaca kedua buku secara estafet. Sekarang, saya sedang tidak sabar menunggu buku ketiganya, Shades of Earth, terbit. Sebentar lagiii....

Apa yang membuat serial Across the Universe ini menarik? Idenya. Sejak dulu, saya suka menonton National Geographic Channel dan beberapa kali membaca atau mendengar wacana pencarian planet layak huni mirip bumi dan perpindahan manusia bumi ke planet tersebut, jika suatu saat bumi tidak lagi mampu menopang kehidupan manusia. Terdengar egois, karena menurut saya tentu planet tersebut menjadi hak dari penghuninya dan hak kita hanya atas planet bumi. Tapi saya tidak bisa berhenti penasaran seandainya wacana itu jadi kenyataan. Bagaimana manusia pergi ke sana dan apa yang akan terjadi seandainya mereka tiba dan jadi manusia pertama di planet tak dikenal itu? Nah, buku ini seperti menawarkan kemungkinan jawaban atas rasa penasaran saya itu. Saya sudah jelaskan gambarannya sedikit di sinopsis di awal review ini. Jika ingin tahu gambaran Beth Revis untuk perjalanan alam semesta ini secara lebih rinci, silakan baca langsung bukunya ya.

Pendapat saya tentang cerita Across the Universe setelah selesai baca? Saya suka banget. Walau kedua tokoh utama masih remaja, buat saya kisah Elder-Amy sangat jauh dari kisah-kisah remaja lainnya. Romance tidak terlalu mendominasi, malah yang ditekankan adalah bagaimana beratnya beban yang harus ditanggung keduanya. Elder digembleng untuk menjadi penerus Eldest, dan menjadi makin berat setelah Elder satu generasi di atasnya meninggal sehingga jika Eldest meninggal, Elder tidak hanya harus memimpin generasi di bawahnya namun juga generasi di atasnya. Belum lagi Eldest selalu meremehkan Elder. Amy di lain pihak, telah kehilangan segalanya. Ia tentu tidak dapat kembali ke masa lalunya di bumi, namun ia juga tidak bisa membangunkan orangtuanya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu 50 tahun lagi di dalam pesawat dengan orang-orang tak dikenal dan melindungi kedua orangtuanya dari pembunuh misterius. Karakter Elder dan Amy-pun bukan yang serbasempurna. Elder sangat lembut dan setia kawan, namun terkadang terlihat lembek. Sebaliknya, Amy sangat keras kepala dan terkadang menjengkelkan. Namun hal itu terasa manusiawi, terlebih mengingat apa yang mereka jalani. Selain tokoh Elder dan Amy, tokoh-tokoh pendukungnya juga menarik. Saya paling suka Harley, si seniman yang patah hati.

Mengenai setting, saya salut dengan Beth Revis. Penggambaran keseharian masyarakat dan sistem kehidupan di Godspeed sangat rinci. Terlihat mengerikan jika sistem ini dijalankan, namun juga masuk akal karena, dalam lingkungan terbatas seperti Godspeed, memang diperlukan masyarakat yang tenang, damai, dan tidak terlalu kritis. Bayangkan saja jika terjadi pemberontakan di dalam pesawat. Mau mengungsi ke mana coba? Ke bintang? Masyarakat di dalam Godspeed hanyalah masyarakat "jembatan", yang bertugas mengantar manusia-manusia krio serta keturunan mereka untuk menginjakkan kaki di Bumi-Centauri.

Mengenai konflik? Naaah... ini nih. Biasanya, kalau baru buku pertama serial, konfliknya masih melempem, karena ceritanya masih berkutat seputar pengenalan tokoh, keistimewaan mereka, dan permasalahan apa yang ada di hadapan mereka. Tapi di buku Across the Universe tidak begitu. Dari halaman-halaman awal, pembaca sudah dibuat penasaran ada apa di balik sistem Godspeed ini dan, klimaksnya... Serius deh, saya kira baru akan terjadi di buku kedua atau ketiga, tapi ternyata...

Memang nggak habis-habisnya kelebihan buku ini buat saya, sampai-sampai saya nggak bisa menuliskan kritik apa-apa untuk buku ini--kecuali tentang tingkah Amy yang terasa menyebalkan, tapi lagi-lagi itu sesuai karakter remajanya dan tekanan yang dia rasakan. Terjemahannya pun bagus dan tidak membingungkan. Cover? Nggak usah ditanya lagi lah. Cantik bangeett dan mirip dengan cover asli versi lamanya.

versi asli-lama
versi asli-baru


Saya sudah baca buku selanjutnya sih, A Million Suns, tapi bukunya saya tinggal di kantor. Review menyusul.

Buat saya, buku ini RECOMMENDED banget buat dibaca, baik pencinta sci-fi/dystopia maupun bukan. Saya sebenarnya bukan pencinta novel seperti ini, tapi pas baca benar-benar tersedot dalam ceritanya. Jadi, mungkin hal yang sama bisa terjadi juga di kamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berikan pendapatmu mengenai post yang kamu baca di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...