Kamis, 30 Januari 2014

Pulang

Judul: Pulang
Pengarang: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2012
Halaman: 462



Novel Pulang bercerita tentang Dimas Suryo, seorang wartawan yang kehilangan kewarganegaraan Indonesianya pasca meletusnya peristiwa G30S. Tempat kerjanya, Kantor Berita Nusantara, diduga merupakan kantor berhaluan kiri atau komunis dan ditutup ketika Dimas Suryo bertugas di Santiago, Chile. Pengembaraan Dimas Suryo membawanya menetap di Perancis bersama ketiga temannya yang juga kehilangan kewarganegaraan: Nugroho, Tjai, dan Risjaf.

Dimas Suryo pergi dari Indonesia tanpa menduga bahwa mungkin seumur hidupnya ia tidak akan bisa kembali ke tanah airnya. Begitu banyak masalah yang belum selesai di Indonesia dan juga membuatnya khawatir, terutama menyangkut nasib istri sahabatnya, Hananto, yang bernama Surti. Dulu, Dimas dan Surti adalah sepasang kekasih. Namun, karena ketidaksiapan Dimas untuk memulai rumah tangga, Surti akhirnya pindah hati kepada Hananto, rekan kerja Dimas, dan juga teman dekatnya. Pasca G30S, Hananto yang dikejar-kejar tentara karena menjadi aktivis PKI, bersembunyi. Surti dan ketiga anak mereka harus diinterogasi dan menghadapi apa yang dinamakan "mimpi buruk".

Dimas kemudian meneruskan hidupnya dengan menikahi perempuan Perancis yang juga aktivis, Vivienne, dan memiliki seorang anak bernama Lintang Utara. Bersama ketiga sahabatnya di Perancis, Dimas yang jago memasak kemudian mendirikan restoran Indonesia bernama Tanah Air. Namun demikian, hati Dimas masih tertinggal di Indonesia dan impiannya adalah agar bisa dikubur di Karet, di tanah yang sama dengan penyair idolanya, Chairil Anwar

Pada tahun 1998, Lintang Utara yang sudah berumur 23 tahun hendak membuat film dokumenter sebagai tugas akhir kuliahnya. Sang dosen memaksanya membuat film mengenai sejarah Indonesia karena ia memiliki ayah yang merupakan saksi hidup sejarah tersebut. Lintang Utara kemudian berangkat ke Indonesia untuk menemui sisi lain kehidupan ayahnya yang selama ini hanya ia ketahui dari cerita ayah dan teman-teman ayahnya. Di Indonesia, bukan saja Lintang harus berhadapan dengan orang-orang yang membenci dan merendahkan keluarganya yang dinilai sebagai komunis, ia juga tanpa sadar telah menjadi saksi peristiwa bersejarah lain di tanah leluhurnya: Reformasi.

Berhasilkah Lintang membawa ayahnya kembali pulang ke Indonesia? 

PERINGATAN:
Walau saya sudah memberi 4 bintang untuk buku ini di Goodreads, review saya mungkin mengandung unsur negatif lebih banyak dari yang kalian kira. Buat yang sudah baca dan suka dengan novel ini, sepertinya kali ini kita tidak sependapat (lagi).

Novel Pulang adalah novel yang saya sudah tunggu-tunggu untuk baca selama setahun lebih. Selama ini, tidak bisa dimungkiri, saya sudah tertarik dengan latar belakang cerita yang mengambil kisah G30S, yang selama ini banyak dimanipulasi oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Penasaran saja, bagaimana Leila S. Chudori akan menulis kisah mengenai hal ini. Namun, saya terus batal membeli bukunya karena saya takut bahasanya terlalu berat (dan nunggu ada yang ngasih juga sih sebenernya..). Saya memang punya kelemahan di bidang sastra. Susah mudeng! Bahkan buku-buku Pramoedya Ananta Toer saja saya pusing bacanya (iya, saya sudah pernah baca buku-bukunya kok..) padahal bahasanya tidak terlalu puitis dan penuh kiasan. Untung Santaku akhirnya membelikan buku ini sehingga akhirnya saya memberanikan diri untuk membacanya. Dan ternyata, isinya tidak seberat yang saya bayangkan. Malah jauh lebih ringan dari bayangan saya :)

Ngomong-ngomong soal kisah G30S, ternyata Leila S. Chudori memutuskan untuk tidak bercerita banyak mengenai peristiwa ini dan peristiwa pembantaian besar-besaran yang terjadi setelahnya. Tidak banyak fakta (dan gosip) sejarah yang cukup kontroversial yang dibeberkan di buku ini. Malah sebaliknya, buku ini lebih berfokus untuk mengupas perasaan dari orang-orang yang menjadi "korban" peristiwa bersejarah ini. Kenapa saya sebut "korban"? Karena dari semua tokoh yang diceritakan, kecuali Hananto yang menemui ajal dengan cepat, tidak ada yang benar-benar menganut paham komunis. Semua benar-benar hanya korban. Dimas Suryo dan teman-temannya menjadi eksil di Perancis hanya karena kebetulan berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Surti beserta anak-anaknya harus mengalami pengalaman pahit karena suaminya dituduh komunis dan diburu tentara. Aji Suryo, sama seperti Surti, terpaksa harus hidup merunduk karena memiliki hubungan keluarga dengan Dimas Suryo yang dicap komunis. Intinya, ketimbang mendapat kisah seru soal konspirasi di balik G30S, saya justru dibawa untuk ikut mempertanyakan pertanyaan yang ada di benak para tokoh: "kenapa?" Kenapa pemerintah bisa dengan mudahnya memberi cap ex-tapol dan komunis tanpa mengecek faktanya terlebih dahulu? Tapi tidak ada jawaban saya dapatkan.

Agak melenceng dari harapan semula. Tapi ya sudahlah. Saya masih bisa menikmati ceritanya kok, karena saya jadi mendapatkan gambaran bagaimana rasanya hidup di bawah stigma negatif seperti itu dan tentu saja, mensyukuri karena semua itu kini sudah berakhir. Kiranya dari kejadian yang menimpa Dimas Suryo-Dimas Suryo asli, kita sebagai penerus bangsa bisa belajar untuk lebih baik dari itu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Lalu kisah pun beralih ke generasi yang lebih muda: Lintang Utara, beserta Alam (anak Surti dan Hananto yang bungsu), serta Bimo (anak Nugroho) dengan setting Jakarta ketika reformasi. Naaah, di sini saya bingung. Kok ya ceritanya berubah jadi novel  romance? Woosah!!! Lintang, mahasiswi Sorbonne yang pintar, keras kepala, ambisius dan tidak takut bahaya malah kepincut dengan Alam, si aktivis yang tampil laksana hero di novel-novel romance. Aiyaaa!! *ala JK* Lalu ada adegan ranjang segala pula. Walah! Cukup menghibur sih, seandainya saya lagi baca novel metropop atau adult romance. Tapi ini kan novel sejarah!!!! Bukan ini yang saya cari ketika memutuskan membaca buku ini!!!*gempa bumi lokal* Lintang seharusnya bertugas mengantarkan penutup atas keseluruhan cerita. Membawa jawaban: akankah Dimas Suryo berhasil pulang? Namun kenapa jadi begini ceritanya?

Ah sudahlah cukup saya membicarakan tentang ekspektasi saya yang meleset itu. Sekarang saya mau bercerita kenapa saya bisa kasih bintang 4 buat buku ini walau menurut saya buku ini adalah seperti isi 3 paragraf di atas. Karena, seperti saya bilang sebelumnya, kalau saya menganggap novel ini seperti novel romance kebanyakan, atau novel historical romance deh karena ada unsur sejarahnya, saya menganggap buku ini menghibur saya. Ceritanya cukup runut walau menggunakan multiple-POVs. Penyampaian emosi tokoh-tokohnya jelas dan bisa membuat saya ikut hanyut dalam emosi. Ada kalanya hati saya terasa ikut sakit membaca kerinduan Dimas Suryo untuk pulang. Ada kalanya saya ikut tertawa membaca interaksi keempat Pilar Tanah Air yang hidup, seru, dan bersemangat. Ada kalanya saya ikut deg deg ser membaca perkembangan hubungan Lintang-Alam di tengah masa-masa kritis. Dan di ending-nya, saya sempat berkaca-kaca (walau terus bete gara-gara Lintang. HUH!). Tapi yaa itu kalau saya menganggap novel ini novel romance biasa. Padahal ekspektasi awal saya kan bukan seperti itu...Namun dari segi pendekatan sejarahnya, walau riset sepertinya sudah cukup dalam, saya rasa Leila S. Chudori masih belum berani menyentuh inti permasalahan. Kurang "nendang" gitu lah istilahnya..

*******

Begitulah pendapat saya tentang novel Pulang karya Leila S. Chudori ini. Sekarang saatnya saya nebak Santa saya. Sekedar refreshing, ini petunjuk dari Santa saya:


Caesar + 3 maksudnya, huruf-huruf yang tercantum dalam petunjuk merupakan hasil +3 dari huruf-huruf maksud asli si pemberi petunjuk, yaitu:

GA SWISS
PUBLIKASI IRF

Siapa lagi Santa saya kalau bukan si Lulu, yang jadi pemenang Giveaway novel Swiss di blog ini dan juga teman satu tim saya di Sie Publikasi IRF.
Ngaku deh Lu!!! ahahahaahah. Kalau ternyata kamu bukan Lulu, tolong jangan ngaku. Dan Lu, udah ngaku aja, biar saya nggak malu. Eheheheh.

Yah, sekian setoran review dan tebakan Santa saya.
Siapa Santamu?

32 komentar:

  1. Ini gampang banget Na Riddlenya. Plus terang2an kayak gitu :))

    Jadi Pulang ringan ya bahasanya? Ntar aku pinjem temen aja deh, hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, beneran enak diikuti.
      Pinjem punyaku aja kalau mau baca. ehehehe.

      Hapus
  2. hehehe riddlenya cukup ok kok, gak terlalu gampang gak terlalu susah :) buku ini masih di timbunanku, semoga aku bisa merendahkan ekspektasiku dulu :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, sebenernya lebih tepat mengubah ekspektasi, mbak, bukan merendahkan. Kalo mau emosinya teraduk-aduk dan nggak mau diberatin soal politik, buku ini pas.

      Hapus
  3. Hmmm....tetep gak ngerti hubungannya sama Caesar?...
    *kayaknya daku gak bakat jadi detektip deh...*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kode yang ditambah atau dikurangin dari huruf aslinya itu namanya Caesar Cipher mbak.

      Hapus
    2. Iya Caesar Chiper itu cara pengkodean message yang digunakan di zaman Caesar dulu makanya namanya gitu

      Hapus
  4. Hahahaha kalo Lulu nggak ngaku gimana mbak? xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat saya mah, yang penting dapet bukunya, bisa dibaca. Masalah Santa saya siapa ya sudahlah.. hahahaha

      Hapus
  5. Iyaaaa beneeerrr. Pemikiranmu sama kayak aku ya. Pulang lebih kerasa sebagai novel romance.
    Padahal aku lebih tertarik sama suka duka 4 serangkai. Trus juga.....iyaaa soal reformasinya kurang panjang. Dan endingnya gitu amat ya, Na. Gak ada cerita lebih lanjut tentang Dimas. Ujug2 'pulang' aja. Gak dijelasin juga repot apa nggak bawa dia 'pulang'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kayak aku juga...padahal aku baru baca sampai adegan mereka siang2 ML di apartemen itu gara2 bir yang tumpah dikit2 ituhh..duh aku gerah bacanya krna lebih banyak romance

      Hapus
    2. Hihi ternyata kalian berdua juga kecele' kayak saya. *Toss*

      Bernyanyi di pojokan genjreng-genjreng gitar: "Surti.. remaja.. anak.. bapak kades.. dan si Dimas... jejaka.. baru jadi eksil" *cuekin ajahhh*

      Hapus
    3. hahahahah, kayaknya aku aja nih yang suka banget kalau buku ini kental nuansa romancenya :D

      Hapus
    4. Mbak Sulis emang selalu pecinta romance hahaha.

      Hapus
  6. Nah, siapakah gerangan SS Nana :D
    Yang kirimi aku as post-girl

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iya aku tau belinya lewat mbak Maria. Untung aku udah pernah belanja lewat mbak sebelumnya.

      Hapus
  7. Duuuh Mbak Nana pede banget deh. Hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dong, kan saya pake Rex*#na.... ahahaha

      Hapus
  8. Skip reviewnya. Ntar balik lagi baca ini kalau sudah baca Pulang.

    Tuh yang di atasku...ayo ngaku :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe baca mbak buruan biar bisa nimbrung..

      Hapus
  9. menarik riddlenya haha... aku juga penasaran pengen baca buku ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo baca Sab.. Kalo mau pinjem boleh

      Hapus
  10. setelah berkeliling blogwalking, kesimpulan saya, gak bakat jadi detektif *meraung, cakar-cakar tembok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha saya juga ga bakat. Ini kebetulan aja gampang. Lalalalaaa~

      Hapus
  11. mau baca pulaang jugaa.. *setelah tamat murjangkung dan Amba *niat ngelengkapin seri KLA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bacanya ntar pas baca bareng BBI ajaaa.. Kan ada tuh KLA 2013. Aku bete, soalnya udah beli Maryam buat siap2 baca bareng KLA taunya dibatesin cuma KLA 2013. Apaaa ittuuuuu??!!!!

      Hapus
  12. selamat ya, Nanaaaa, akhirnya kesampean juga tuh buku berPulang padamu #ngaco

    utk baca buku ini mah aku ngaku kalah sama bapakq yg udah kelar dluan, huhuhuhu *menatap si Pulang di timbunan lalu terdiam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. Yah masa kalah sama bapak sendiri? Dibaca dong mbaaaakkk

      Hapus
  13. Mbak Nananana... akhirnya tiba juga hari pengakuan. Yak aku yakin Mbak Nana udah nggak begitu penasaran karena yakin banget gitu nebaknya. Oke langsung saja: 100 buat Mbak Nana! Memang sayalah santa yang engkau cari. Haha... Ternyata riddleku gampang banget ya :p
    Nah, menjawab rasa penasaran Mbak Dewi yang bertanya-tanya buku apa yang kubaca hingga terinspirasi pakai sandi Caesar, jawabannya adalah... aku nggak terinspirasi dari buku. *gubrak* *antiklimaks* Hehe, karena misteri bukan genre favoritku jadi kemungkinan kecil aku terinspirasi dari buku. Aku tahu sandi ini justru karena main ke Museum Sandi di Jogja, akhirnya dipakai buat riddle SS deh. Yuk main ke Museum Sandi juga cari inspirasi riddle tahun ini *ujung-ujungnya promosi*

    Sekian dari saya, selamat buat Mbak Nana yang bisa menjawab dengan benar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... THANKS LULUUU!!!! Ada ya museum sandi di Jogja? Baru tau.

      Hapus
  14. nice infonya. sukses terus gan...!

    BalasHapus
  15. Riddle nya menarik ;)

    Btw romance ya? Ada adegan ranjang? Kok semacam metropo....

    BalasHapus

Berikan pendapatmu mengenai post yang kamu baca di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...