Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, Khaerul Anwar
Penerbit: Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit: 2015
Halaman: 80
Harga: Rp. 5.000 (beli di obralan penerbit Kompas)
Kalau bicara soal gunung berapi yang mematikan di Indonesia, pasti semua orang tidak bisa tidak menyebut nama Tambora (selain Krakatau dan Merapi). Gunung yang letusannya pada tahun 1815 begitu dahsyat hingga menyebabkan bencana internasional ini juga menyebabkan daerah kerajaan yang tertutup debu setelahnya disebut Pompeii dari Timur--mengacu pada nama kota yang terkena letusan gunung api Vesuvius di zaman Romawi Kuno. Sayangnya, pengetahuan masyarakat Indonesia tentang gunung ini beserta sejarah kerajaan di sekitarnya sangat minim. Seingat saya, zaman sekolah dulu, peristiwa Tambora tidak pernah disebut-sebut dalam pelajaran geografi atau sejarah atau lainnya. Kenyataannya, bahkan masyarakat sekitar Tambora kini pun ternyata tidak memiliki sejarah tertulis yang akurat mengenai kejadian yang menimpa wilayah itu beberapa abad sebelumnya.
Pada tahun 2011- 2012, Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas melakukan ekspedisi dan penggalian sumber sejarah lebih dalam mengenai gunung yang ternyata memiliki letusan sangat dahsyat--skala 7 dari 8 Volcanic Explosivity Index (VEI). Diakui oleh tim ekspedisi, literatur atau buku-buku mengenai Tambora dalam bahasa Indonesia sangat minim. Lebih banyak buku dan jurnal ilmiah dari luar negeri. Namun demikian, akhirnya pada tahun 2015, laporan ekspedisi tersebut berhasil dibukukan dan diterbitkan.
Selain soal penggalian situs Tambora yang dinilai terlambat, dalam buku ini, Tim Ekspedisi Cincin Api juga bercerita mengenai kondisi lingkungan dan masyarakat di sekitar Tambora kini. Untuk buku setebal 80 halaman, banyak pengetahuan yang pembaca bisa dapat. Dan tentunya, pelajaran yang berharga untuk masa depan. Sebuah buku yang menarik untuk dibaca dan dikoleksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan pendapatmu mengenai post yang kamu baca di sini